TENTANG MONASH INSTITUTE

Degradasi semangat kejuangan mahasiswa dan kualitas kader organisasi kemahasiswaan membuat Dr. Mohammad Nasih, seorang ilmuan, akademikus (mengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI, FISIP UMJ, dan Wakil Direktur Bidang Akademik  Sekolah Tinggi Ekonomi dan Perbankan [STEBANK] Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Jakarta), dan juga aktivis sosial-politik, menjadi sangat prihatin. Kesimpulan mengenai degradasi tersebut ia tarik dari pengalaman mengajar di berbagai perguruan tinggi dan memberikan pelatihan-pelatihan di berbagai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.

Pengalaman dalam dunia pendidikan dan sosial-politik juga membukakan perspektif bahwa Indonesia sedang mengalami kerusakan yang sangat parah. Memperbaikinya secara lebih akseleratif merupakan sebuah keniscayaan, agar Indonesia tidak menjadi semakin tertinggal oleh negara-negara lain.

Untuk itu, diperlukan dua strategi sekaligus, yaitu: struktural dan kultural. Jalan struktural adalah jalan politik yang untuk itu diperlukan stok pemimpin-pemimpin politik yang memiliki kecerdasan multidimensional dengan kecerdasan spiritual sebagai tumpuan utama. Namun, karena lembaga-lembaga yang sesungguhnya berfungsi untuk melahirkan pemimpin ternyata juga mengalami disfungsi, maka diperlukan jalan kultural, di antaranya berbentuk lembaga pendidikan alternatif yang didesain sebagai kawah candradimuka untuk melahirkan pemimpin yang berkualitas untuk masa depan. Mereka inilah yang diharapkan akan mengisi lembaga-lembaga politik formal yang saat ini dikuasai oleh para penjahat dan/atau medioker.

Karena itu, pada pertengahan tahun 2009, Nasih berinisiatif untuk mengumpulkan para pemimpin aktivis mahasiswa yang rata-rata sudah menjalani separuh masa studi di Semarang dan memberikan pembinaan secara lebih intensif dengan materi dasar pembangunan paradigma perjuangan dan jurnalistik.

Upaya ini menunjukkan hasil cukup signifikan. Tidak sedikit peserta program ini yang kemudian menjadi aktivis yang berprestasi dalam studi, lebih bersemangat dalam menjalani aktivisme, dan mampu menuangkan gagasan secara impresif di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional. Keberhasilan program ini kemudian memicu Nasih untuk melakukan pembinaan secara lebih intensif lagi, kepada lebih banyak kader, dan diberikan sejak awal masuk kuliah.

Bersama dengan Mukharrom Asysyabab dan Ristam Matswaya yang juga merupakan aktivis-aktivis mahasiswa dan pemuda, ia mempersiapkan desain rumah perkaderan untuk melahirkan pemimpin masa depan pada medio 2010. Dengan pertimbangan sederhana bahwa biasanya yang mendirikan lembaga atau yayasan sosial adalah politisi yang telah purna bakti dengan menggunakan nama sendiri sebagai nama lembaga, maka lembaga pendidikan yang dibentuk diberi nama Monash Institute. Kata Monash merupakan singkatan dari Mohammad Nasih.

Kata Monash sesungguhnya sudah ditemukan sejak lama, ketika pemilik nama menempuh pendidikan di pesantren. Karena sandal jepitnya sering dighashab (dipakai tanpa izin) oleh beberapa temannya dan kemudian hilang tanpa ada yang bertanggung jawab, maka dipahatkannya suku kata MO di sandal kiri dan NASH di sandal kanan. Dan panggilan ini kemudian melekat, terutama pada saat kuliah. Di samping karena nama ini terasa enak didengar, keberanian untuk menjadikan nama sendiri sebagai nama sebuah lembaga adalah untuk memelopori pembuatan rekam jejak kepada kaum muda.

Dalam desain perkaderan di Monash Institute, para kader binaan harus menguasai bahasa Arab dan Inggris. Untuk itu, diperlukan mentor-mentor yang akan melatih para kader binaan membiasakan diri dengan bahasa asing tersebut. Dikirimlah 3 orang mahasiswa tingkat akhir (Mansur Syarifuddin, Faedurrahman, dan Attabik Imam Zuhdi) untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di Pare, Kediri. Bersamaan dengan itu, pengumuman rekrutmen kader yang akan diberi beasiswa oleh Monash Institute untuk kuliah di IAIN Walisongo Semarang dilakukan. Kampus ini menjadi pilihan, karena pertimbangan biaya kuliah yang paling murah.

Untuk mengawali program ini, dengan pertimbangan kekuatan pendanaan yang tidak banyak di satu sisi dan efektifitas kaderisasi di sisi lain, direkrut 20 orang calon kader yang diseleksi dengan sistem yang telah dipersiapkan secara khusus. Dengan segala dinamikanya, proses kaderisasi berjalan dan jumlahnya ditambah dengan 5 orang kader yang sesungguhnya tidak memenuhi kualifikasi dengan tujuan untuk mengetahui kecocokan sistem program pembinaan yang diterapkan untuk mengakselerasi kemampuan mereka.

Untuk tempat tinggal dan belajar para kader, disewa dua rumah; satu untuk tempat tinggal kader perempuan dan satu lagi untuk laki-laki dengan lokasi yang berhadap-hadapan. Pendanaan kaderisasi ini bersumber dari zakat pribadi pendiri lembaga dari hasil tebu yang ditanam di lahan warisan orang tua di Rembang seluas kira-kira 5 hektar.

Di bawah kepemimpinan Muhammad Abu Nadlir sebagai direktur, Monash Institute menerapkan kaderisasi super intensif. Dan untuk melakukan akselerasi yang lebih tinggi lagi bagi peningkatan kualitas kader, Monash Institute mensinergikan program pendidikan dan pelatihannya dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan yang telah memiliki jaringan sosial politik kuat. Dengan model ini, para kader binaan Monash Institute memiliki kualitas tinggi tidak hanya dalam aspek teoritik, tetapi juga dalam konteks praktik.

Monash Institute membangun paradigma inklusif kepada para kader binaan. Secara spesifik, profil kader yang ingin dilahirkan adalah kader hybrid yang mampu memahami segala keberagaman entitas umat dan bangsa, terutama di Indonesia. Wawasan keummatan dan kebangsaan senantiasa dibangun dengan kokoh.

Dengan wawasan dan pemahaman yang luas, diharapkan para kader Monash Institute tidak gagap dalam menjalin hubungan, kerja sama, dan sinergi dengan berbagai pihak yang memiliki keunikan-keunikan dan ketika nantinya harus berada di dalam wadah perjuangan apa pun yang bisa dijadikan sebagai sarana aktualisasi diri dan perbaikan umat dan bangsa. Dengan demikian, mereka bisa melakukan perjuangan secara lebih leluasa dan optimal.

Proses kaderisasi di Monash Institute mendapatkan semangat lebih besar, karena beberapa tokoh intelektual dan aktivis sosial politik level nasional yang memiliki agenda di Semarang, diundang untuk mampir ke Monash Institute dan memberikan motivasi kepada para kader.

Dengan pengasramaan, pengondisian para kader untuk berkumpul dan mendapatkan pencerahan dari para tokoh menjadi sangat mudah dilakukan tanpa pandang waktu, bahkan tengah malam atau menjelang fajar sekalipun. Di antara tokoh yang pernah memberikan motivasi di Monash Institute adalah Fachry Ali (Pendiri LP3ES), Chusnul Mari’iyah, Ph.D. (Mantan Anggota KPU 2001-2007), Dr. Abdul Mu’ti (Sekretaris PP Muhammadiyah), Dr. Aries Muftie (Ketua Masyarakat Ekonomi Syari’ah), dan Chumaidi Syarif Romas (Mantan Ketua Umum PB HMI, dosen UIN SUKA, Yogyakarta). Bahkan pernah juga John Lid Miller, seorang doktor dan praktisi hukum dari Universitas Chicago, bersama puteranya Alvin Sulaiman mengagendakan secara khusus untuk belajar membaca al-Qur’an di Monash Institute.

Terjadi semacam barter ilmu. Para kader Monash Institute mengajarkan al-Qur’an. Sebaliknya, John dan Alvin mengajarkan praktik berbahasa Inggris. Pelajaran penting yang didapatkan dari kejadian ini adalah pembangunan paradigma bahwa selama ini seolah-olah orientasi pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah Amerika, sehingga banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia berburu ilmu pengetahuan ke sana.  Namun, di Monash Institute, kebiasaan itu bisa dikatakan terbalik. Ini menjadi momentum tersendiri untuk menanamkan kepercayaan diri para kader, bahwa mereka sesungguhnya juga memiliki sesuatu yang dibutuhkan oleh orang lain yang menyadarinya.

Di tengah-tengah upaya melakukan kaderisasi yang memerlukan tenaga, pikiran, dan juga pendanaan yang tidak kecil, muncul Dody Firman Noorcahya, seorang teman lama Nasih di organisasi kemahasiswaan. Dody yang juga mantan aktivis dan pernah bersama-sama Nasih menjalani aktivitas sebagai instruktur pelatihan-pelatihan kaderisasi di berbagai kampus di Semarang pada tahun-tahun menjelang sampai peralihan millenium ketiga, ternyata masih memiliki semangat lama dalam melakukan kaderisasi dan memiliki panggilan yang sama untuk terus membangun dan melahirkan kader berkualitas.

Dengan bantuan Dody, yang telah memiliki usaha konstruksi baja ringan yang cukup mapan inilah, keperluan beras bagi para kader binaan di Monash Institute relatif tidak pernah mengalami masalah. Tidak lama setelah itu, Gatot Salahuddin, seorang mantan aktivis yang juga telah menjadi pengusaha di Jakarta mampir ke Monash Institute dan memberikan perhatian sangat besar kepada perkembangan kaderisasi Monash Institute dengan memberikan motivasi dan juga bantuan pendanaan. Hingga pada tahun-tahun berikutnya, Monash Institute melakukan rekrutmen kader-kader baru dengan jumlah yang lebih banyak dan kualifikasi yang terus ditingkatkan.

Keberhasilan pembinaan ini memberikan berkah tersendiri kepada pendiri para kontributornya. Keberadaan para kader binaan yang hafal al-Qur’an dijadikan sebagai modal untuk mendirikan PAUD Mellatena untuk mendidik anak-anak usia dini masyarakat sekitarnya secara gratis dengan program khusus menghafalkan al-Qur’an. Dan yang menikmati program khusus ini pertama kali adalah anak-anak Nasih dan Dody, walaupun sesungguhnya mereka adalah kelinci-kelinci percobaan Balita menghafalkan al-Qur’an, karena masih belum mudah untuk memberikan pengertian kepada para orang tua bahwa anak-anak Batita pun bisa menghafalkan al-Qur’an dengan mudah semudah menghafalkan lagu “Balonku Ada Lima”. Perkembangan baik ini, membuat ibu mertua Nasih terdorong untuk mewakafkan satu rumah yang terletak tidak jauh dari rumah yang disewa oleh Monash Institute. Saat ini, selain menempati satu rumah wakaf tersebut, para kader Monash Institute yang berjumlah lebih dari 150 orang menempati gedung 4 lantai di daerah Tanjungsari, Ngaliyan yang dibangun sendiri oleh Nasih.

ADVOKASI KADER POTENSIAL

Untuk mendapatkan kader-kader yang bisa dibina secara super intensif dan diharapkan bisa menjadi pemimpin tanggung di masa depan, rekrutmen dilakukan kepada calon-calon kader yang berasal dari kalangan ekonomi kelas bawah, tetapi memiliki potensi keunggulan komparatif terbaik. Kalangan ekonomi kelas bawah lebih memiliki ketahanan dalam menjalani sistem berat yang diterapkan untuk melakukan internalisasi nilai-nilai dan wawasan yang harus mereka miliki yang bertujuan untuk mengakselerasi kualitas pribadi.

Para kader dari kalangan ekonomi kelas bawah tidak memiliki pilihan lain, kecuali tetap menjalani gemblengan luar biasa, jika ingin tetap bisa melanjutkan pendidikan. Berbeda dengan kalangan menengah atas, yang memiliki pilihan lain untuk meninggalkan proses penggemblengan, karena merasa memiliki kemampuan finansial walaupun harus meninggalkan fasilitas yang diberikan oleh Monash Institute. Dalam masa itulah internalisasikan berbagai nilai-nilai positif dan wawasan yang sangat penting dimiliki oleh pribadi-pribadi pemimpin bisa diinternalisasikan, sehingga membuat para kader memiliki kesadaran baru untuk melakukan perjuangan hidup secara lebih keras dan berorientasi lebih jelas. Dengan merekrut calon kader dari kalangan ekonomi kelas bawah, juga berarti telah melakukan advokasi kepada kalangan yang selama ini paling banyak terhalang kepada akses untuk menempuh pendidikan tinggi.

Untuk mendapatkan kader-kader dengan kualitas terbaik, maka informasi tentang program ini disebarkan pada area yang luas. Untuk itu, digunakan berbagai sarana, terutama media sosial FB, Twitter, SMS, Email, dan juga cara-cara lain yang selama ini telah terbukti efektif untuk mendatangkan kader-kader berkualitas dari berbagai penjuru nusantara. Makin banyak pendaftar, maka akan makin ketat persaingan dan yang terekrut kemudian adalah yang terbaik di antara yang baik-baik. Bukan berarti bahwa sistem pendidikan yang ada di Monash Institute diskriminatif, tetapi karena berbagai keterbatasan, dari pendanaan sampai tempat, maka diprioritaskan yang terbaik dan diharapkan mampu menjadi pejuang yang di masa depan mampu memberikan advokasi yang sama atau bahkan lebih besar.