18
Okt

Akhlak Paripurna

Oleh: Dr. Mohammad Nasih (Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Guru Utama di Rumah Perkaderan Monash Institute)

Dunia senantiasa mengalami perubahan, yang karena itu Allah Swt. melakukan berbagai perubahan terhadap aturan kehidupan yang sebelumnya telah ditetapkan, baik untuk menyesuaikan keadaan maupun meringankan. Sebab, jika aturannya tidak diubah, maka umat yang terkemudian tidak akan mampu melakukannya. Misalnya, puasa yang sebelumnya sehari semalam, diubah hanya sehari/siang hari saja (al-Baqarah 183-187). Intinya, semua panduan Allah itu untuk membuat umat manusia hidup dengan baik. Aturan yang diberikan oleh Allah adalah aturan yang sesungguhnya sangat realistis. Dengan perubahan aturan, yang diharapkan adalah sikap dan perilaku hidup yang lebih baik untuk kehidupan yang berkelanjutan sampai hari kiamat. Panduan itulah yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai utusan yang terakhir. Dan dengan itulah, Nabi Muhammad menyempurnakan akhlak yang telah terbangun sebelumnya oleh para nabi dan rasul yang mendahuluinya. Karena itulah, beliau mengibaratkan dirinya sendiri sebagai batu bata penyempurna pada sebuah bangunan yang indah.

Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan para nabi sebelumku, seperti seorang yang sedang membangun rumah; lalu dia memperbaikinya dan memperindahnya, kecuali satu bata pada sebelah sudut yang kosong. Karena itu, banyak orang mengitari rumah itu; mereka heran dengannya, dan mereka berkata: ‘Kenapa tidak diletakkan batu bata di sini?’. Akhirnya diletakkanlah batu bata di bagian tersebut. Beliu bersabda: ‘Akulah batu bata tersebut, dan aku adalah penutup para nabi.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah sebab, Nabi Muhammad disebut sebagai pribadi yang memiliki akhlak yang agung (khuluqin adhîm, QS. al-Qalam: 4). Aisyah, Umm al-Mu’minîn, ketika ditanya bagaiamana akhlak Rasulillah, beliau menjawab: “Akhlaknya adalah al-Qur’an.” Sebab, seluruh paradigma dan tindakan Rasululullah, selalu didasarkan kepada wahyu dari Allah Swt.. Jika pun ada yang kurang tepat, langsung dibetulkan oleh al-Qur’an. Karena telah paripurna, maka tidak lagi diperlukan nabi/rasul sesudahnya. Sebab, Rasulullah telah menjadi suri teladan terbaik bagi seluruh ummat manusia.

Dengan menjadikan al-Qur’an sebagai panduan akhlak, maka yang akan terbangun adalah budi pekerti yang paripurna. Budi pekerti yang sebelumnya telah ada dan masuk dalam kategori mulia, disempurnakan lagi oleh Nabi Muhammad, sehingga menjadi lebih tinggi lagi dibandingkan yang sebelumnya. Budi pekerti paripurna itu didasarkan kepada konsepsi yang memang paripurna, mulai cara berpikir, bertutur kata, dan juga berperilaku, karena sumber panduannya adalah Allah Swt.. Dengan budi pekerti yang paripurna itu, kehidupan yang benar-benar sesuai dengan kehendak Allah, akan terwujud. Dan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, pasti akan membawa kebaikan bagi keberlangsungan kehidupan seluruh umat manusia dalam alam semesta ini.

Karena itu, sesungguhnya hadits tentang tugas Nabi Muhammad menyempurnakan akhlak tersebut berkait sangat erat dengan ayat bahwa Allah telah menyempurnakan agama dengan Islam dan menginginkan agar Islam benar-benar dijadikan sebagai komitmen dalam kehidupan (al-Ma’idah: 3). Wallahu a’lam bi al-shawab.

Leave a Reply